Breaking News
light_mode

Spanyol, Argentina, dan Tidore: Ketika Sejarah Menemukan Finalnya

Catatan Redaksi Opini Malut

Tidak banyak final Piala Dunia yang menghadirkan begitu banyak lapisan cerita. Final Piala Dunia 2026 yang mempertemukan Spanyol dan Argentina bukan sekadar duel dua kekuatan sepak bola dunia. Lebih dari itu, ia adalah perjumpaan dua tradisi besar, dua budaya sepak bola, dan bagi masyarakat Maluku Utara—terutama Tidore—sebuah momentum yang membangkitkan kembali ingatan sejarah.

Sebelum sampai ke partai puncak, empat negara yang menghuni semifinal merupakan empat kekuatan besar sepak bola dunia: Spanyol, Prancis, Argentina, dan Inggris. Sulit membayangkan semifinal yang lebih ideal. Keempatnya memiliki sejarah panjang, kualitas pemain kelas dunia, serta tradisi sepak bola yang telah teruji selama puluhan tahun.

Namun akhirnya hanya dua yang tersisa.

Spanyol dan Argentina.

Bagi sebagian besar pencinta sepak bola dunia, final ini adalah pertarungan dua raksasa. Namun bagi masyarakat Tidore, pertandingan ini memiliki makna yang lebih dalam. Ia bukan hanya tentang siapa yang akan mengangkat trofi Piala Dunia, melainkan juga tentang bagaimana sejarah dan identitas menemukan kembali ruang perjumpaannya.

Di Indonesia, dukungan terhadap tim nasional sepak bola sebenarnya telah lama melampaui batas-batas negara. Orang tidak lagi mendukung sebuah tim semata-mata karena faktor geografis. Mereka mencari kedekatan lain, baik melalui pemain idolanya, gaya bermain, pengalaman masa kecil, maupun sejarah yang mereka rasakan dekat dengan diri mereka.

Dalam kajian komunikasi, kedekatan seperti itu dikenal sebagai proximity. Semakin banyak titik kedekatan yang dimiliki seseorang terhadap suatu objek, semakin kuat pula ikatan emosional yang terbentuk.

Itulah yang terjadi pada final kali ini.

Ada yang mendukung Argentina karena tumbuh bersama kisah Diego Maradona, lalu jatuh cinta pada Lionel Messi.

Ada yang memilih Spanyol karena menikmati filosofi permainan mereka yang indah dan kolektif.

Ada pula yang melihat pertandingan ini melalui kacamata sejarah.

Bagi masyarakat Tidore, nama Spanyol bukanlah sesuatu yang asing.

Ia adalah bagian dari perjalanan panjang Kesultanan Tidore dalam sejarah dunia.

Lebih dari lima abad lalu, armada Spanyol berlabuh di Tidore ketika bangsa-bangsa Eropa berlomba mencari sumber rempah-rempah Nusantara. Dari hubungan itulah lahir salah satu babak terpenting dalam sejarah pelayaran dunia.

Momentum itu kembali dihidupkan pada tahun 2021 melalui Sail Tidore 2021, sebuah agenda nasional yang menjadi bagian dari peringatan internasional 500 Tahun Pelayaran Mengelilingi Dunia (500 Years Circumnavigation of the Globe). Walaupun pelaksanaannya tidak semeriah yang direncanakan akibat pandemi Covid-19, kegiatan tersebut tetap berlangsung dan dihadiri berbagai delegasi internasional, termasuk Duta Besar Spanyol untuk Indonesia.

Peringatan tersebut bukan sekadar seremoni.

Ia menjadi pengingat bahwa Tidore pernah menjadi salah satu pusat perhatian dunia.

Hubungan sejarah itu semakin kuat ketika Indonesia menetapkan 11 Desember sebagai Hari Rempah Nasional. Tanggal tersebut dipilih karena pada 11 Desember 1521, kapal Victoria meninggalkan Tidore dengan membawa sekitar 27,3 ton cengkih menuju Eropa. Peristiwa itu menjadi simbol penting perdagangan global berbasis rempah dan menegaskan posisi Tidore sebagai salah satu simpul utama jalur rempah dunia.

Dalam beberapa tahun terakhir, muncul pula narasi baru yang menarik perhatian masyarakat Maluku Utara.

Melalui novel karya Helmy Yahya, publik mulai mengenal sosok Enrique yang diyakini berasal dari Tidore. Dalam narasi tersebut, Enrique disebut sebagai orang pertama yang sesungguhnya berhasil mengelilingi dunia.

Gagasan ini memang masih menjadi bagian dari perdebatan historiografi dan belum menjadi kesepakatan seluruh sejarawan. Namun logika yang dibangun cukup menarik. Enrique diperkirakan telah meninggalkan Tidore menuju Malaka, kemudian dibawa ke Eropa, lalu ikut dalam ekspedisi Magellan hingga kembali lagi ke Tidore. Dengan demikian, ketika armada tiba kembali di Tidore, perjalanan Enrique telah membentuk satu putaran penuh mengelilingi bumi. Sementara rombongan Kapal Victoria lainnya baru dianggap menyelesaikan pelayaran keliling dunia ketika kembali ke Spanyol.

Terlepas dari perdebatan akademiknya, narasi tersebut telah membangkitkan kesadaran baru bahwa Tidore bukan hanya penonton sejarah, tetapi bagian dari sejarah dunia itu sendiri.

Ironisnya, ketika final Piala Dunia mempertemukan Spanyol dan Argentina, pilihan masyarakat Tidore justru tidak sesederhana mengikuti jejak sejarah.

Di sinilah sepak bola menunjukkan kekuatannya.

Ia mampu menciptakan identitas baru yang melampaui sejarah.

Argentina, yang secara historis tidak memiliki hubungan langsung dengan Tidore, justru memiliki basis pendukung yang sangat besar di Maluku Utara.

Generasi yang tumbuh bersama Diego Maradona kemudian diwarisi oleh generasi Lionel Messi. Kini hampir di setiap kampung di Ternate, Tidore, Tobelo, Bacan, Morotai, Sanana, hingga Halmahera, mudah ditemukan anak-anak yang mengenakan seragam biru-putih Argentina.

Mereka mungkin tidak mengetahui sejarah Buenos Aires.

Namun mereka hafal setiap gol Messi.

Menariknya lagi, antusiasme itu tidak hanya datang dari masyarakat.

Menjelang final Piala Dunia, Pemerintah Kota Tidore Kepulauan bersama Polresta Tidore menggelar acara nonton bareng (nobar) di kawasan Pantai Tugulufa. Kegiatan tersebut menjadi ruang berkumpul masyarakat untuk menikmati laga puncak Piala Dunia secara bersama-sama, sekaligus menjaga semangat kebersamaan yang selalu lahir dari sepak bola.

Fenomena ini semakin unik karena Wali Kota Tidore Kepulauan selama ini dikenal luas oleh masyarakat sebagai “Presiden Fans Argentina Tidore.” Julukan itu tentu bukan jabatan resmi, melainkan ungkapan yang lahir dari konsistensinya menunjukkan kecintaan terhadap Tim Tango dalam berbagai turnamen internasional.

Di sinilah paradoks itu terasa indah.

Secara sejarah, Tidore memiliki kedekatan dengan Spanyol.

Namun secara emosional, banyak masyarakatnya justru menaruh hati kepada Argentina.

Seolah-olah sejarah dan perasaan sedang bertanding di lapangan yang sama.

Pada sisi teknis, final ini juga menawarkan pertarungan dua filosofi sepak bola.

Spanyol datang dengan identitas permainan yang dibangun melalui sistem pembinaan jangka panjang. Filosofi penguasaan bola, kecerdasan ruang, serta permainan kolektif diwariskan dari generasi Xavi Hernández, Andrés Iniesta, Sergio Busquets, hingga kini diteruskan oleh Lamine Yamal, Pedri, Gavi, Dani Olmo, Mikel Merino, Martín Zubimendi, Marc Cucurella, dan pemain-pemain generasi baru lainnya.

Argentina memiliki cerita berbeda.

Mereka memang juga memiliki sistem pembinaan yang kuat, tetapi identitas sepak bolanya lebih dibentuk oleh karakter kompetitif, kreativitas individu, dan kemampuan beradaptasi. Dari era Mario Kempes, Diego Maradona, Gabriel Batistuta, Juan Román Riquelme, Javier Zanetti, Javier Mascherano, hingga Lionel Messi, Argentina selalu melahirkan pemain-pemain dengan karakter khas yang mampu mengubah jalannya pertandingan.

Karena itu, final ini bukan hanya mempertemukan dua negara.

Ia mempertemukan dua cara memahami sepak bola.

Namun bagi masyarakat Maluku Utara, mungkin pelajaran terbesarnya justru berada di luar lapangan.

Sepak bola mengajarkan bahwa identitas tidak selalu dibentuk oleh batas negara.

Ia dapat dibangun oleh sejarah, budaya, pengalaman, bahkan rasa memiliki terhadap sebuah kisah.

Tidore memiliki hubungan sejarah dengan Spanyol.

Namun masyarakatnya juga bebas mencintai Argentina.

Keduanya tidak saling bertentangan.

Justru keduanya memperlihatkan bahwa sejarah dan olahraga mampu hidup berdampingan.

Apa pun hasil pertandingan nanti, sejarah tidak akan berubah.

Jika Argentina menjadi juara, masyarakat Maluku Utara akan kembali merayakan kemenangan tim yang telah lama mereka cintai.

Jika Spanyol yang mengangkat trofi, maka kemenangan itu sekaligus mengingatkan bahwa bangsa tersebut pernah menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah Tidore dan jalur rempah dunia.

Mungkin inilah indahnya sepak bola.

Ia tidak hanya mempertemukan sebelas pemain melawan sebelas pemain.

Ia mempertemukan masa lalu dengan masa kini.

Mempertemukan sejarah dengan identitas.

Mempertemukan memori dengan harapan.

Dan bagi Tidore, final Piala Dunia 2026 bukan sekadar pertandingan sepak bola.

Ia menjadi pengingat bahwa sebuah pulau kecil di timur Indonesia pernah menjadi episentrum perdagangan dunia, menjadi titik penting pelayaran mengelilingi bumi, dan hingga hari ini tetap mampu menemukan dirinya dalam panggung terbesar sepak bola dunia.

Ketika peluit pertama dibunyikan di Stadion New York–New Jersey pada 19 Juli 2026 (20 Juli dini hari waktu Indonesia), yang bertanding memang Spanyol dan Argentina.

Namun di hati masyarakat Tidore, yang ikut bermain adalah sejarah.

Dan mungkin, untuk satu malam itu, dunia kembali diingatkan bahwa sebelum bola bergulir di stadion modern, jalur menuju peradaban global pernah singgah di pelabuhan Kesultanan Tidore.

  • Penulis: Admin1

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less